Proses Integrasi Nusantara sejak Proses Islamisasi

Tujuan Pembelajaran : peserta didik dapat menjelaskan bagaimana proses integrasi nusantara melalui peran ulama, peran perdagangan dan peran bahasa

Integrasi sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, karena dengan integrasi akan melahirkan satu kekuatan bangsa yang ampuh dan segala persoalan yang timbul dapat dihadapi bersama. Pada abad ke-16 proses integrasi bangsa Indonesia mulai mengalami kemajuan pesat sejak proses Islamisasi. Contohnya adalah hubungan antara ulama dari berbagai daerah yang mempercepat proses persatuan bangsa-bangsa di kepulauan Indonesia.

Peranan para ulama dalam proses integrasi

Agama Islam yang masuk dan berkembang di Nusantara mengajarkan kebersamaan dan mengembangkan toleransi dalam kehidupan beragama. Islam mengajarkan persamaan dan tidak mengenal kasta-kasta dalam kehidupan masyarakat. Konsep ajaran Islam memunculkan perilaku ke arah persatuan dan persamaan derajat. Disisi lain, datangnya pedagang-pedagang Islam di Indonesia mendorong berkembangnya tempat-tempat perdagangan di daerah pantai. Tempat perdagangan itu kemudian berkembang menjadi pelabuhan dan kota-kota pantai. Bahkan kota-kota pantai yang merupakan bandar dan pusat perdagangan, berkembang menjadi kerajaan. Timbulnya kerajaan-kerajaan Islam merupakan awal terjadinya proses integrasi. Meskipun masing-masing kerajaan memiliki cara dan faktor pendukung yang berbeda. Penyebaran agama Islam di Indonesia juga tidak dapat dipisahkan dengan peranan ulama dan para wali. Raja-raja di Indonesia memberdayakan para ulama dan para wali sebagai penyebaran agama Islam di daerah-daerah.

Peran Perdagangan Antar Pulau

Sejak zaman kuno, kegiatan pelayaran dan perdagangan sudah berlangsung di kepulauan Indonesia, dari daerah yang satu ke daerah yang lain, bahkan antar negara yang satu dengan yang lain. Kegiatan pelayaran dan perdagangan pada umumnya berlangsung dalam waktu yang lama. Hal ini menimbulkan pergaulan dan hubungan kebudayaan antara para pedagang dengan penduduk setempat. Kegiatan semacam ini mendorong terjadinya proses integrasi.

Berikut adalah beberapa peranan perdagangan bagi proses integrasi.

  • Menghubungkan penduduk satu pulau dengan lainnya.

Pulau – pulau penting di Indonesia pada umumnya memiliki pusat-pusat perdagangan. Sebagai contoh di Jawa memiliki beberapa pusat perdagangan misalnya Banten Sunda Kelapa, Jepara, Tuban, Gresik, Surabaya, dan Blambangan. Kemudian di dekat sumatra ada bandar malaka. Di sumatra ada di Aceh, Pasai, Barus, dan Palembang. Malaka berkembang menjadi bandar terbesar di Asia Tenggara. Tahun 1511 Malaka jatuh ke tangan Portugis sehingga perdagangan nusantara berpindah ke Aceh. Para pedagang dari pulau-pulau di Indonesia datang dan berdagang di Aceh.

Dengan adanya pusat-pusat perdagangan di daerah-daerah dan pulau-pulau itu, maka terjadilah hubungan dagang antar daerah dan antar pulau. Kegiatan itu mendorong teradinya proses integrasi yang terhubung melalui para pedagang.

  • Proses Percampuran dan Penyebaran Budaya Satu Daerah Terhadap Daerah Lainnya.

Setelah jatuhnya Malaka ke tangan Portugis tahun 1511, sebagian kegiatan perdagangan Nusantara dialihkan ke Aceh, Banten, Makasar, Gresik, dan lain-lain. Di kota-kota tersebut, seperti halnya di Malaka sebelum 1511, terjadi pertemuan antara berbagai suku bangsa. Dari pertemuan itu, terjadilah pertukaran pengalaman, pengetahuan, dan adat-istiadat yang berbeda-beda. Proses integrasi itu juga diperkuat dengan berkembangnya hubungan kebudayaan. Bahkan juga ada yang diikuti dengan perkawinan.

Peran Bahasa

Karena kepulauan Indonesia terdiri dari beribu-ribu pulau dan aneka ragam suku bangsa yang memiliki bahasa masing-masing, maka diperlukan bahasa perantara yang dapat dimengerti oleh semua suku bangsa. Maka dari itu digunakanlah bahasa melayu di semua pelabuhan yang ada di kepulauan nusantara karena sejak zaman kuno sudah menjadi bahasa resmi negara melayu (Jambi). Para pedagang di daerah-daerah timur Nusantara juga menggunakan bahsaa melayu sebagai bahasa pengantar. Sehingga berkembanglah bahasa melayu ke seluruh kepulauan nusantara, dan akhirnya menjadi bahasa pergaulan di seluruh kepulauan nusantara.

Masuk dan berkembangnya agama Islam, mendorong perkembangan bahasa Melayu. Buku-buku agama dan tafsir al- Qur’an juga mempergunakan bahasa Melayu. Ketika menguasai Malaka, Portugis mendirikan sekolah-sekolah dengan menggunakan bahasa Portugis, namun kurang berhasil. Pada tahun 1641 VOC merebut Malaka dan kemudian mendirikan sekolah-sekolah dengan menggunakan bahasa Melayu. Jadi, secara tidak sengaja, kedatangan VOC secara tidak langsung ikut mengembangkan bahasa Melayu.

Proses integrasi bangsa Indonesia yang dimulai sejak abad ke-16 sampai abad ke-19 dan diteruskan pada abad ke-20 melalui gerakan kebangsaan sebenarnya tidak berakhir sampai terbentuknya negara kesatuan RI, 17 Agustus 1945, melainkan terus berlanjut, sampai sekarang.

Faktor pemersatu terpenting di antara berbagai suku bangsa Nusantara adalah Islam. Islam mengatasi perbedaan-perbedaan yang terdapat di antara berbagai suku bangsa dan menjadi identitas yang mengatasi batas-batas geografis, sentimen etnis, identitas kesukuan, adat istiadat dan tradisi lokal lainnya.

Daftar Pustaka

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. 2017. Sejarah Indonesia (Untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas X). Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *