Sejarah Kerajaan Ternate: Salah satu kerajaan Islam tertua di nusantara

Tujuan Pembelajaran : Peserta didik dapat memahami dan menjelaskan sejarah kerajaan Ternate beserta peninggalan – peninggalannya.

Tidak hanya di pulau Jawa, di pulau Maluku juga terdapat kerajaan Islam, yaitu kerajaan Ternate. Kerajaan Ternate merupakan salah satu dari 4 kerajaan Islam di Kepulauan Maluku dan merupakan salah satu kerajaan Islam tertua di Nusantara. Didirikan oleh Baab Mashur Malamo pada tahun 1257.

Hikayat Ternate menyebutkan bahwa turunan raja-raja Maluku: Ternate, Tidore, Jailolo, dan Bacan, berasal dari Jafar Sadik dari Arab. Dalam tradisi setempat dikatakan bahwa raja ternate ke 12 bernama Molomota (1350-1357) bersahabat dengan orang-orang muslim arab yang datang ke Maluku memberikan petunjuk pembuatan kapal. Demikian pula diceritakan bahwa pada masa pemerintahan Raja Marhum di Ternate, datang seorang alim dari Jawa bernama Maulana Husein yang mengajarkan membaca Alqur’an dan menulis huruf arab yang indah sehingga menarik raja dan keluarganya serta masyarakatnya. Meskipun demikian mungkin waktu itu agama Islam belum begitu berkembang. Perkembangannya baru pada masa Raja Cico atau putranya Gopi Baguna dan dengan Zainul Abidin pergi ke Jawa belajar agama, iman Islam, dan tauhid makrifat Islam. Zainul Abidin (1486-1500) yang mendapat ajaran Islam dari Giri dan mungkin dari Prabu Atmaka di Jawa dikenal sebagai Raja Bulawa artinya Raja Cengkeh. Sekembalinya dari Jawa ia membawa mubalig yang bernama Tuhubahalul.

Letak Geografis Kerajaan Ternate

Secara geografis kerajaan ternate dan tidore terletak di Kepulauan Maluku, antara sulawesi dan irian jaya letak terletak tersebut sangat strategis dan penting dalam dunia perdagangan masa itu. Pada masa itu, kepulauan maluku merupakan penghasil rempah-rempah terbesar sehingga di juluki sebagai “The Spicy Island”.

Rempah-rempah menjadi komoditas utama dalam dunia perdagangan pada saat itu, sehingga setiap pedagang maupun bangsa-bangsa yang datang dan bertujuan ke sana, melewati rute perdagangan tersebut agama islam meluas ke maluku, seperti Ambon, ternate, dan tidore. Keadaan seperti ini, telah mempengaruhi aspek-aspek kehidupan masyarakatnya, baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya.

Kehidupan Politik Kerajaan Ternate

Di kepulauan maluku terdapat kerajaan kecil, diantaranya kerajaan ternate sebagai pemimpin Uli Lima yaitu persekutuan lima bersaudara. Uli Siwa yang berarti persekutuan sembilan bersaudara. Ketika bangsa portugis masuk, portugis langsung memihak dan membantu ternate, hal ini dikarenakan portugis mengira ternate lebih kuat.

Begitu pula bangsa spanyol memihak tidore akhirnya terjadilah peperangan antara dua bangsa kulit, untuk menyelesaikan, Paus turun tangan dan menciptakan perjanjian saragosa. Dalam perjanjian tersebut bangsa spanyol harus meninggalkan maluku dan pindah ke Filipina, sedangkan Portugis tetap berada di maluku

Sultan Hairun

Untuk dapat memperkuat kedudukannya, portugis mendirikan sebuah benteng yang di beri nama Benteng Santo Paulo. Namun tindakan portugis semakin lama di benci oleh rakyat dan para penjabat kerajaan ternate. Oleh karena itu sultan hairun secara terang-terangan menentang politik monopoli dari bangsa portugis.

Sultan Baabullah

Sultan baabullah (Putra Sultan Hairun) bangkit menentang portugis. Tahun 1575 M Portugis dapat dikalahkan dan meninggalkan benteng.

Masa Kejayaan Kerajaan Ternate

Kerajaan Ternate mengalami masa kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Baabullah. Di masa pemerintahannya, Sultan Baabullah berhasil mengenyahkan kekuasaan orang portugis dan Maluku Utara, dan juga berhasil meluaskan kekuasaan hingga Mindanao di sebelah utara dan Hitu (Ambon) disebelah selatan. Kekuasaan kerajaan Ternate meliputi 72 pulau besar dan kecil. Tapi usaha Ternate untuk menguasai Tidore  dan mengusir Portugis dari Ambon mengalami kegagalan.

Sultan Baabullah wafat pada tahun 1583. Kemudian tahta kerajaan jatuh ketangan putranya yaitu Sahid Barkat. Lambat laun kebesaran Ternate mulai suram karena tekanan yang berat dari Spanyol di sebelah utara dan VOC di sebelah selatan. Kemudian setelah Spanyol memusatkan seluruh perhatiannya ke Filipina, VOC dengan leluasa menanamkan pengaruhnya di Maluku. Sultan Ternate dan Tidore mengakui kekuasaan VOC hingga bukan lagi sebagai suatu negara yang bebas dan merdeka (pertengahan abad 17).

Kemunduran Kerajaan Ternate

Kerajaan Ternate mengalami kemunduran karena diadu domba dengan Kerajaan Tidore yang dilakukan oleh bangsa Portugis dan Spanyol yang bertujuan untuk memonopoli daerah penghasil rempah-rempah tersebut. Setelah Sultan Ternate dan Sultan Tidore sadar bahwa mereka telah diadu domba oleh Portugis dan Spanyol, mereka kemudian bersatu dan berhasil mengusir Portugis dan Spanyol ke luar Kepulauan Maluku.

Namun kemenangan mereka tidak bertahan lama karena VOC yang dibentuk Belanda untuk menguasai perdagangan rempah-rempah di Maluku berhasil menaklukkan Ternate dengan strategi dan tata kerja yang teratur, rapi dan terkontrol dalam bentuk organisasi yang kuat.

Peninggalan Kerajaan Ternate

Sebagai kerajaan pertama yang memeluk Islam, Ternate memiliki peran yang besar dalam upaya pengislaman dan pengenalan syariat-syariat Islam di wilayah timur nusantara dan bagian selatan Filipina. Bentuk organisasi kesultanan serta penerapan syariat Islam yang diperkenalkan pertama kali oleh Sultan Zainal Abidin menjadi standar yang diikuti semua kerajaan di Maluku hampir tanpa perubahan yang berarti.

Kedudukan Ternate sebagai kerajaan yang berpengaruh turut pula mengangkat derajat Bahasa Ternate sebagai bahasa pergaulan di berbagai wilayah yang berada dibawah pengaruhnya. Prof E.K.W. Masinambow dalam tulisannya, “Bahasa Ternate dalam konteks bahasa-bahasa Austronesia dan Non Austronesia” mengemukakan bahwa bahasa Ternate memiliki dampak terbesar terhadap bahasa Melayu yang digunakan masyarakat timur Indonesia. Sebanyak 46% kosakata bahasa Melayu di Manado diambil dari Bahasa Ternate. Bahasa Melayu Ternate ini kini digunakan luas di Indonesia Timur terutama Sulawesi Utara, pesisir timur Sulawesi Tengah dan Selatan, Maluku dan Papuadengan dialek yang berbeda–beda.

  • Naskah Surat Sultan Ternate

Dua naskah surat sultan Ternate, dari Sultan Abu Hayat II kepada Raja Portugal tanggal 27 April dan 8 November 1521 diakui sebagai naskah Melayu tertua di dunia setelah naskah Melayu Tanjung Tanah. Kedua surat Sultan Abu Hayat tersebut saat ini masih tersimpan di Museum Lisabon, Portugal.

  • Istana Sultan Ternate

Istana Kesultanan Ternate terletak di dataran pantai di Kampung Soa-Sio, Kelurahan Letter C, Kodya Ternate, Provinsi Maluku Utara. Pada tanggal 7 Desember 1976, Istana Kesultanan Ternate dimasukkan sebagai benda cagar budaya. Para ahli waris Kesultanan Ternate dipimpin oleh Sultan Muda Mudzafar Syah, menyerahkan istana kesultanan ini kepada Pemerintah Direktorat Jenderal Kebudayaan untuk dipugar, dipelihara dan dilestarikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Masjid Kesultanan Ternate

Gambar 3. Masjid Kesultanan Ternate
Sumber : https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/masjid-kesultanan-ternate-yang-mengiringi-sejarah-peradaban-ternate

Masjid Kesultanan ini memiliki arsitektur yang sangat unik. Tidak seperti bentuk Masjid masa kini yang memiliki kubah, Masjid ini berbentuk limas dengan undakan sejumlah 6 buah. Sekilas, Masjid ini memang tampak seperti Masjid tua di Jawa dengan bentuk denah bangunan kotak serta atap yang terbuat dari rumbia namun kini telah diganti seng. Komposisi bahan untuk membangun Masjid ini terdiri dari susunan batu dengan bahan perekat campuran kulit kayu pohon Kalumpang. Memang, bila kita mempelajari struktur pembangunan Masjid ini akan tampak sangat sederhana. Namun terbukti, Masjid Kesultanan Ternate ini masih berdiri dengan sangat kokoh hingga masa kini. Selain itu, masjid ini juga memiliki beberapa aturan unik yang berlaku, misalnya keharusan menggunakan kopiah saat memasuki bagian dalam Masjid dan larangan untuk menggunakan sarung saat beribadah. Jadi, jemaah Masjid diwajibkan untuk menggunakan celana panjang karena alasan kepercayaan bahwa posisi kaki pria ketika salat menggunakan celana panjang akan menunjukkan huruf Lam Alif yang bermakna dua kalimat syahadat. Selain itu, kaum wanita juga dilarang beribadah di Masjid ini untuk menghindari ketidaksengajaan terjadinya datang bulan ketika ibadah. Berbagai aturan ini sudah sangat lama diterapkan dan terus dijaga oleh para penjaga Masjid yang disebut Balakusu.

Daftar Pustaka

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. 2017. Sejarah Indonesia (Untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas X). Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Anonim. Kerajaan Ternate. https://kelasips.co.id/kerajaan-ternate/

Bitar. 2019. Kerajaan Ternate dan Tidore. https://www.gurupendidikan.co.id/kerajaan-ternate-dan-tidore/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *