Terbentuknya Kepulauan Indonesia

Penulis: Ema Dwi Pratiwi

Tujuan Pembelajaran:

  • Siswa dapat menjelaskan proses alam terbentuknya Kepulauan Indonesia.

Perlu sahabat tahu, di bumi ini hidup berbagai flora dan fauna serta habitat manusia dan keturunannya, manusia bisa bebas beraktivitas untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun, harus dipahami bahwa bumi juga sering menimbulkan bencana, contohnya adalah munculnya aktivitas lempeng bumi yang kemudian menimbulkan gempa bumi tektonis maupun vulkanis, bahkan sampai menimbulkan tsunami. Apakah sahabat ingat bagaimana gempa dan tsunami yang terjadi di Aceh, gempa bumi di Yogyakarta, di Papua dan beberapa di daerah lain, termasuk beberapa gunung berapi meletus. Bencana tersebut telah memakan ribuan nyawa dan harta benda. Fenomena alam yang terjadi itu merupakan bagian yang tak terpisahkan dari aktivitas panjang bumi sejak proses terjadinya alam semesta ribuan juta tahun yang lalu. Proses tersebut secara geologis mengalami beberapa tahapan atau pembabakan waktu.

Gambar 1. Peta Kepulauan Indonesia
Sumber: Tribunnews.com

Ada berbagai teori dan penjabaran tentang penciptaan bumi, mulai dari mitos sampai kepada penjelasan agama dan ilmu pengetahuan. Salah satu teori ilmiah tentang terbentuknya bumi yaitu Teori “Dentuman Besar” (Big Bang), teori ini menyatakan bahwa alam semesta mulanya berbentuk gumpalan gas yang mengisi seluruh ruang jagad raya. Gumpalan gas itu suatu saat meledak dengan satu dentuman yang amat dahsyat. Setelah itu, materi yang terdapat di alam semesta mulai berdesakan satu sama lain dalam kondisi suhu dan kepadatan yang sangat tinggi, sehingga hanya tersisa energi berupa proton, neutron dan elektron, yang bertebaran ke seluruh arah. Ledakan dahsyat itu menimbulkan gelembung-gelembung alam semesta yang menyebar dan menggembung ke seluruh penjuru, sehingga membentuk galaksi, bintang-bintang, matahari, planet-planet termasuk bumi, bulan, dan meteorit. Bumi ini hanyalah salah satu titik kecil diantara tata surya yang mengisi jagad semesta.

Selanjutnya proses evolusi alam semesta itu memakan waktu kosmologis yang sangat lama sampai berjuta tahun. Terjadinya evolusi bumi sampai adanya kehidupan memakan waktu yang sangat panjang. Ilmu paleontologi membaginya dalam enam tahap waktu geologis. Masing-masing ditandai oleh peristiwa alam yang menonjol, seperti munculnya gunung-gunung, benua, dan mahluk hidup yang paling sederhana. Sedangkan proses evolusi bumi dibagi menjadi beberapa periode sebagai berikut:

  1. Azoikum (dalam bahasa Yunani: a berarti tidak; zoon berarti hewan), yaitu zaman sebelum adanya kehidupan. Pada saat ini bumi baru terbentuk dengan suhu yang relatif tinggi. Waktunya lebih dari satu miliar tahun lalu.
  2. Paleozoikum, yaitu zaman purba tertua. Pada masa ini sudah meninggalkan fosil flora dan fauna. Berlangsung sekitar 350.000.000 tahun.
  3. Mesozoikum, yaitu zaman purba tengah. Pada masa ini hewan mamalia (menyusui), hewan amfibi, burung dan tumbuhan berbunga mulai ada. Lamanya kira-kira 140.000.000 tahun
  4. Neozoikum, yaitu zaman purba baru, yang dimulai sejak 60.000.000 tahun yang lalu. Zaman ini dapat dibagi lagi menjadi dua tahap (Tersier dan Quarter). Zaman es mulai menyusut dan mahluk-mahluk tingkat tinggi dan manusia mulai hidup.
Gambar 2. Ilustrasi Zaman Neozoikum
Sumber: Goingtotehran.com

Merujuk pada tarikh bumi diatas, sejarah kepulauan Indonesia terbentuk melalui proses yang panjang dan rumit. Gugusan kepulauan atau pun wilayah maritim terletak diantara dua benua dan dua samudra, antara Benua Asia di utara dan Australia di selatan, antara Samudra Hindia di barat dan Samudra Pasifik di belahan timur. Sebagian wilayah Kepulauan Indonesia merupakan titik temu di antara tiga lempeng, yaitu Lempeng Indo-Australia di selatan, Lempeng Eurasia di utara dan lempeng Pasifik di Timur. Pergerakan lempeng-lempeng tersebut dapat berupa subduksi, obduksi, dan kolisi. Pergerakan lain dapat berupa pemisahan lempeng-lempeng. Pergerakan mendatar berupa pergeseran lempeng lempeng tersebut masih terus berlangsung hingga sekarang. Perbenturan lempeng-lempeng tersebut menimbulkan dampak yang berbeda-beda namun semuanya telah menyebabkan wilayah kepulauan Indonesia secara tektonis merupakan wilayah yang sangat aktif dan labil sehingga rawan gempa sepanjang waktu.

Pada masa kehidupan tertua (paleozoikum), keadaan geografis kepulauan Indonesia belum terbentuk seperti sekarang ini. Waktu itu wilayah Indonesia merupakan bagian dari samudra yang sangat luas, meliputi hampir seluruh bumi. Pada fase berikutnya yaitu pada masa akhir sekitar 65 juta tahun lalu, kegiatan tektonis itu menjadi sangat aktif menggerakkan lempeng-lempeng indo-australia, Eurasia, dan Pasifik. Kegiatan ini dikenal sebagai fase tektonis sehingga menyebabkan daratan terpecah-pecah. Benua Eurasia menjadi pulau-pulau yang terpisah satu dengan lainnya sebagian di antaranya bergerak ke selatan membentuk pulau pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesin serta pulau pulau di Nusa Tenggara Barat dan Kepulauan Banda. Hal yang sama juga terjadi pada Benua Australia sebagian pecahannya bergerak ke utara membentuk pulau-pulau timur, kepulauan Nusa Tenggara Timur dan sebagian Maluku Tenggara. Pergerakan pulau-pulau hasil pemisahan dari kedua benua tersebut mengakibatkan wilayah pertemuan keduanya sangat labil kegiatan tektonis yang sangat aktif dan kuat telah membentuk rangkaian kepulauan Indonesia pada masa tersier sekitar 65 juta tahun lalu.

Sebagian besar daratan Sumatera Kalimantan dan Jawa telah tenggelam menjadi Laut dangkal sebagai akibat terjadinya proses kenaikan permukaan laut. Sulawesi pada masa itu sudah mulai terbentuk, sementara Papua masih mulai bergeser ke utara meski masih didominasi oleh cekungan sedimentasi Laut dangkal berupa paparan dengan terbentuknya endapan batu gamping. Pada kala pliosen sekitar 5 juta tahun lalu terjadi pergerakan tektonik yang sangat kuat yang mengakibatkan terjadinya proses pengangkatan permukaan bumi dan kegiatan vulkanis. Kegiatan ini menimbulkan tumbuhnya rangkaian perbukitan struktural seperti gunung, dan perbukitan lipatan serta Rangkaian gunung api aktif panjang gugusan perbukitan tersebut.

Keberadaan manusia di bumi awalnya dimulai pada zaman Quarter sekitar 600.000 tahun lalu atau disebut zaman es. Mengapa disebut zaman es? karena selama itu es dari kutub berkali-kali meluas sampai menutupi sebagian besar permukaan bumi wilayah Eropa Utara, Asia Utara dan Amerika Utara. Peristiwa ini terjadi karena saat itu panas bumi tidak tetap, suatu saat naik dan suatu saat dingin. Jika ukuran panas bumi turun drastis maka es akan mencapai meluas ke berbagai wilayah dan air laut akan naik, fenomena ini disebut zaman Glacial. Sebaliknya jika ukuran panas naik, maka es akan mencair, dan permukaan air laut akan naik, fenomena ini disebut zaman Intergarcial. Zaman Glacial dan Interglacial ini berlangsung secara bergantian selama zaman Diluvium (Pleistosen). Untuk zaman Alluvium (Holosen) berlangsung kira-kira 20.000 tahun yang lalu hingga sekarang ini. Sejak zaman ini mulai terlihat secara nyata adanya perkembangan kehidupan manusia, walaupun dalam taraf yang sangat sederhana baik fisik atau kemampuan berpikirnya. Namun manusia generasi-generasi selanjutnya mulai mengembangkan kebudayaan untuk kehidupannya.



Referensi:

Wahyu, Sigit. 2017. Sekitar 4000 Pulau di Indonesia Hilang dari Peta Indonesia, Ini Sebabnya. https://www.tribunnews.com/nasional/2017/06/13/sekitar-4000-pulau-di-indonesia-hilang-dari-peta-indonesia-ini-sebabnya. Diakses tanggal 3 November 2019

Gunawan, Restu, dkk. 2014. Sejarah Indonesia. Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan

Penjelasan Lengkap Tentang Zaman Neozoikum yang Harus Diketahui. https://i1.wp.com/goingtotehran.com/wp-content/uploads/2018/10/Ciri-%E2%80%93-ciri-zaman-Neozoikum-di-zaman-kuarter.jpg?resize=512%2C352 Diakses tanggal 3 November 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *